Sebuah perjalanan dimulai dari sebuah pemikiran, sebuah pemikiran membuat kita bisa memanfaatkan hidup, hidup menuntut kita untuk terus menggali makna yang terpendam didalamnya. Disini kita mencoba menggapai sebuah legenda....

Tuesday, December 01, 2009

keluh kesah

Manusia adalah makhluk yang suka berkeluh kesah, sedikit-sedikit aku masih manusia, sehingga perlu menyampaikan keluh kesahku entah pada siapa.

Wahai, izinkan aku menyampaikan keluhanku, yang mungkin seperti risalah kepedihan atau justru keindahan cinta ini.

Aku selalu berusaha untuk tak mempercayai bahwa cinta bisa terbatasi oleh dimensi, oleh jarak, oleh ruang, oleh waktu oleh apapun itu. Namun, terkadang kita telah melihat kenyataan dan tak mau kenyataan itu berada dalam arah pandang kita. Kita melihat kenyataan dan kita memalingkan muka, dan melupakan apa yang sudah kita lihat. Hingga kenyataan bisa datang seperti mimpi buruk di dalam tidur, menelusup dari alam bawah sadar dari sudut yang terlupakan, tanpa kita sadari, tidak kita kehendaki.

Meski seharusnya cinta bisa bertahan, karena kita melihat dengan menggunakan kacamata berwarna merah muda. Sehingga hitam kelam atau hijau muda masih bisa terbias. Pelan-pelan kucoba untuk melepaskan kaca mataku. Dan melihat semua seadanya, seadanya, dengan jernih, meski perih.

Mencintai tidak selalu indah, pun tidak selalu pedih. Setelah kegembiraan akan ada kesedihan, setelah kesedihan akan ada kegembiraan. Kegembiraan muncul dari berlalunya kesedihan, dan setelah kegembiraan itu berlalu apa yang kita rasakan selain kesedihan? Apakah ada satu bagian lain rasa selain yang cenderung kepada keduanya, apakah ada keadaan kosong? Entahlah, jika kita tak merasakan kegembiraan lagi, atau tak merasakan kesedihan lagi, mungkin berarti kosong. Tanpa rasa. Bahkan sepertinya tanpa rasa itu adalah keburukan, karena anugerah manusialah untuk memiliki rasa. Berarti mari kita anggap bahwa perasaan kosong tidak pernah ada.

Dengan siklus perasaan yang diakibatkan oleh cinta dari sedih menjadi gembira, dan sebaliknya, berarti mau tak mau kita harus mengakui bahwa waktu adalah elemen yang ikut berpengaruh dalam perasaan cinta. “aku mencintaimu untuk selamanya.” Sungguh naïf untuk didengar, karena si pembicara tak pernah bicara di luar dimensi waktu. “aku masih mencintamu.” Saat ini hanya itu yang bisa ku ucapkan.

“Aku masih mencintaimu dan ingin mencintaimu untuk selamanya.” Aku berhasil menghindari caci maki dengan mengucapkan itu. Apabila waktu dimundurkan sampai lebih dari tiga tahun yang lalu, kalimat itu masih relevan untuk didengar. Aku tidak tahu besok, atau lusa, atau setahun yang akan datang, yang lebih lama dari itu apakah kalimat tersebut masih belaku, karena aku akan menambahan anak kalimat.”namun sekarang aku berusaha untuk melupakanmu.” “Aku masih mencintaimu, ingin mencintaimu untuk selamanya, namun sekarang aku berusaha untuk melupakanmu.” Sungguh aneh, ternyata keinginan ku berbeda dengan usaha ku.

Apalagi yang bisa kuusahakan, saat perasaanku begitu disakiti oleh perasaan cinta ini. Setelah titik puncak perasaan rinduku, cintaku, keinginanku, ternyata hanya berbalas kekecewaan. Jarak menunjukkan batasnya, dan waktu menunjukkan kekuasaannya. Hanya saja, jiwaku yang masih tak sanggup menanggungnya. Apakah tak dihargai lagi kerinduan yang belum ada obatnya ini, apakah tak bisa dihargai lagi usaha menahan waktu hingga titik bertemu disatu tempat pada suatu waktu di masa yang akan datang? Bahkan dalam bayanganku kita semakin dekat dengan tujuan kita untuk bersama. Tujuan kita bersama, bukan tujuan orangtua ku, tetangga ku atau presiden ku. Ternyata aku salah, kita bahkan tak memandang dengan kacamata yang sama, juga tak bicara dengan bahasa yang sama.

Betapa pedih hatiku ketika mengetahui itu.

Betapa sedih rasanya kehilangan cita-cita, kehilangan mimpi, kehilangan arah, kehilangan cinta. Betapa tak terbayangkannya harus kehilangan kamu, cita-cita, mimpi, arah hidupku, cinta ku. Tetapi aku sedikit-sedikit masih manusia, manusia sudah membuktikan eksistensinya sebagai spesies yang bisa mempertahankan peradaban di atas bumi ini. Tentu saja, aku harusnya bisa bertahan. Harusnya bisa bertahan. Seharusnya....

Sunday, February 22, 2009

nyanyian sunyi

Mentari pagi yang mengetuk lembut jendela membuatku mengingatmu kembali setelah gelap yang hanya diterangi hatimu dalam alam bawah sadarku. Lalu terang dalam hari yang melenyapkanku hanya menghadirkan sunyi tanpa kata yang terbalas dari bayanganmu. Pun senja yang sahdu hanya merangkum lamunan tentang kehadiranmu yang tak dinyana. Hingga lelah yang ditelan malam membuatku menikmati alam penuh corak keelokan mu.

Dalam irama itu waktu hanya berlalu, hanya aku yang tertawa dalam lara dan tersendu dalam gembira. Tak pernah merangkai sempurna tanpa menyentuh nyata dirimu yang hanya aku inginkan. Tentu saja aku akan bertahan, karena tak ada yang bisa menarik pasukan setia dari kesetiaannya melindungi benteng yang tersembunyi dari penyerang.

Aku hanya bisa memetik dawai dan mendendangkan dengan lirih bait-bait kerinduan, dalam rangkaian melodi yang nadanya adalah kesunyian.

Aku ingin kamu menyempurnakanku

Tak puas dengan itu aku akan mendeklamasikan dengan bingar setiap kenangan agar sepi tak merasuk hanya padaku. Dalam teriak-teriak ku, hanya kamu yang dapat menenangkanku.

Saturday, December 27, 2008

Tradisi tebang pohon

Di kampungku, ada beberapa kejadian yang setelah kuamati bisa disebut sebagai tradisi. Tradisi tebang pohon.

Acara tebang pohon ini hampir selalu terjadi saat ada anak gadis yang dinikahkan. Acara resepsi pernikahan berbiaya beberapa tahun menabung umumnya dilangsungkan di tempat mempelai wanita, karena halaman rumah yang biasanya cukup luas, maka halaman ybs disulap menjadi tenda biru.

Untuk itu, biasanya keluarga si wanita harus merelakan pohon-pohon yang ada di halaman menjadi korban. Itulah yang terjadi di halaman rumahku saat kakak perempuan menikah dengan seorang laki-laki (pastinya). Tetangga-tetangga sebelah berdatangan beberapa hari sebelum hari H untuk prosesi tebang pohon.

Seorang Bapak pemilik pohon yang dalam dilema biasanya tak kuat mengayunkan parangnya.
Bapak : “Yang ini jangan ditebang semua ya..” dengan memelas.
Tetangga : “Sayang sama anak apa sama pohon?” seraya mengayunkan parang dengan tertawa-tawa kejam.
Alhasil sebuah pohon sawo, jambu, rambutan, mangga harus menjadi korban. Selang setahun setelah itu mereka belum bisa berbuah. Si pohon jambu bahkan tidak pernah hidup lagi. Itulah salah satu wujud pengorbanan sebuah keluarga untuk melepas anaknya ke pelaminan.

Kali ini tradisi (atau mungkin tragedi?) tebang pohon dilaksanakan di rumah tetangga sebelah rumahku, maka tetangga-tetangga lain kembali berdatangan, beberapa siap membawa parang dari rumahnya sendiri yang sudah diasah dengan tajam. Tentu saja Bapak yang dua tahun lalu kehilangan pohonnya pun bertindak cukup agresif sebagai wujud pembalasan dendam. Ayunan demi ayunan dilayangkan untuk mengubah sebuah taman bunga berikut beberapa pohon sawo dan alpukat menjadi sebuah tenda. Bahkan pohon mangga tetangga lainnya juga harus menjadi korban. Mereka melakukannya dengan tertawa-tawa seraya mengucapkan slogan “Sayang anak apa sayang pohon?”

Aku hanya memperhatikan, dalam hati timbul pertanyaan, “Kapan dan dimanakah ada anak gadis yang keluarganya akan merelakan pohon berikut taman kecilnya untukku?”

Sunday, December 21, 2008

Biji Island

Kisah tentang pelarian adalah kisah yang menggambarkan pulau biji. Disanalah hidup beberapa orang yang oleh tangan takdir, bercengkrama dalam suasana yang sama setiap harinya.

Aku adalah salah satu diantara yang berjuang disana. Seperti juga orang-orang lain, tidak semua hal dalam hidup bisa dipilih, sehingga pilihan untuk menyambung hidup di pulau biji tak bisa dielakkan. Tak lepas dari pengamatan mengenai silih bergantinya warga pulau biji. Hampir setiap bulan ada wajah baru yang datang dan ada wajah lama yang menghilang. Seringkali bahkan wajah menghilang lebih banyak dari wajah yang datang, hingga pontang-pantinglah kami pekerja di pulau biji menerima beban kerja yang lebih banyak.

Ada kisah bung Teme yang sejak hari pertama menginjakkan kakinya disana selalu memikirkan rencananya untuk pergi ke pulau lain yang lebih subur. Bung Teme yang biasa makan siang bersamaku mengatakan di pulau ini tak ada kenyamanan, tak ada tantangan, hanya kebosanan yang hadir setiap hari. Sehingga jika saja kutanyakan kepada Bung Teme “Apa rencana mu hari ini?” dia akan menjawab: “Seperti hari-hari sebelumnya, melarikan diri dari pulau Biji.” Akhirnya beberapa bulan berselang Bung Teme berhasil mewujudkan rencananya, rencana itu terbungkus rapi dalam alasan sakit yang mendera dirinya, padahal dia berlayar ke pulau bali.

Penguasa pulau Biji kehilangan, dan mencari kemana Bung Teme, tapi Bung Teme telah terlalu jauh untuk dikejar. Kalau perasaannya tak bisa ditangkap, apa gunanya mengurung badannya, pikirku mengenai kejadian ini. Akupun merasa sangat kehilangan, tapi turut bergembira untuk keberhasilan Teme, karena tindakannya adalah perwakilan dari perasaan banyak orang di pulau Biji.

Ada juga kisah Bung Koco yang sehari-hari mendapat tekanan luar biasa dari banyaknya Biji yang harus dia hasilkan. Koco yang dibiasakan untuk makan ikan asin setiap hari, sangat gembira ketika datang tawaran serupa bandeng, Berlarilah Koco mengejar ikan Bandeng. Berkurang lagilah warga pulau Biji diikuti bertambahnya beban warga pulau yang tersisa. Pertambahan dan pengurangan selalu ditanggapi alam dengan mencapai sebuah kesetimbangan baru.

Demikian satu persatu warga pulau berkurang, dengan kecepatan yang lebih lambat, satu demi satu juga penguasa pulau menambah warga baru. Ditengah-tengahnya aku mulai merasakan getaran yang ditinggalkan oleh para pendahulu tersebut, getaran bosan luar biasa pada biji imajiner yang harus dikumpulkan setiap hari. Teriakan pendahulu juga terdengar sayup-sayup “bangkitlah!”. “Sekali-kali kita harus mengatakan tidak pada kehidupan statis”, ucapku pelan.

Hingga suatu ketika dimana angin tak bertiup, hujan tak turun, guntur tak terdengar, dan semua terlihat biasa saja. Yang tak biasa adalah sebuah kapal kecil hadir di pinggir pulau, mengajakku naik kesana. Aku tak bisa menahan diri, berjalanlah aku kesana setelah meminta sedikit restu dari penguasa pulau. Tiba dengan berjabat tangan, maka aku pun pergi dengan berjabat tangan, diiringi berbagai tatapan yang entah apa artinya. Suasana haru mungkin akan menyelimuti pulau biji setelah aku tinggalkan, bukan karena aku sangat berarti disana, tapi lebih banyak karena ketiadaanku berarti memberi warisan pekerjaan kepada warga pulau yang masih bekerja disana.

Selamat tinggal warga pulau biji, ketika aku sudah mencapai pulau harapan, akan kukirimkan kapal untuk mengajak kalian serta. Ucapku dalam hati…

Saturday, July 26, 2008

KELILING EROPA 6 BULAN HANYA 1.000 DOLAR!




Judul buku: KELILING EROPA 6 BULAN HANYA 1.000 DOLAR! Jalur Pertemanan
Pengarang: Marina Silvia K
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Pertama, ini adalah buku yang dikarang oleh seorang kenalan waktu di kampus. Jadi mudah-mudahan bisa menghindari kesan subjektif karena mengenal pengarangnya.

Buku yang ditulis dengan sangat baik dari Marina, diangkat dari jurnal perjalanan yang ditulisnya di blog friendster hingga akhirnya diterbitkan.

Judul yang dipilih kurang catchy, rada kepanjangan. Menurut saya pribadi, judul buku lebih baik satu atau dua kata, sehingga orang-orang akan mudah untuk mengucapkan dan merekomendasikannya ke orang lain, lebih mudah diingat, lebih mudah dicari di toko buku. Tapi judul buku ini bisa menarik orang-orang untuk melihat sejenak sambil berkata “Hah? Keliling Eropa 6 bulan hanya seribu dolar? Mana mungkin!” Lalu orang itu akan menilik sedikit isi bukunya dan kemungkinan besar membelinya. Dalam hal esensi menarik minat calon pembaca , judulnya sudah mengakomodir. Dan tentu saja kita boleh berkesimpulan Marina memang orang yang lebih mementingkan esensi daripada bentuk.

Menilik ke dalam buku ini, isinya bisa dikatakan berisi. Perjalanan ke Eropa yang dilakukannya adalah seperti mengubah sebuah mimpi menjadi nyata yang tentu saja bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang dengan sebuah kalimat “Hey, itu semua mungkin!”. Mudah-mudahan pembaca akan mendapatkan kembali semangat untuk menggapai mimpi-mimpinya.

Yang luar biasa dari buku ini adalah cerita-cerita yang bisa memperluas persepsi kita agar lebih bersikap terbuka terhadap segala perbedaan. Memperkenalkan kita dengan beragam budaya di Eropa yang notabenenya adalah Negara maju yang ditulis dari sudut pandang seorang wanita dari Negara berkembang. Semua dirangkai dalam kesan-kesan berikut dialog-dialog cerdas yang asik untuk di simak dan tentunya mengutip bahasa seorang Marina, adalah “Menuju pencerahan”. Selain keindahan kebudayaannya isu yang sangat dibawa oleh Marina adalah satu dunia, beragam warna, satu tujuan, kabaikan bagi kehidupan umat manusia.

Buku ini dilengkapi dengan banyak gambar (meskipun kebanyakan kecil-kecil) yang bukan hanya membuka imaginasi kita tapi sekaligus juga menambah rasa penasaran kita akan objek yang sebenarnya. Salah satu kekurangannya adalah keterangan gambar tidak cukup memadai, sehingga pembaca akan sering bertanya-tanya, gambar ini dari cerita yang mana dari sudut pandang mana. Salah satu kekurangan lainnya adalah dengan merangkup pengalaman di 45 kota 13 negara dalam satu buku, jadilah rangkaian cerita yang pendek-pendek, sehingga jadilah kita penarasaran tidak mendapatkan detail pengalaman yang kita inginkan dari satu atau dua peristiwa.

Dengan bukunya ini Marina membuat kita semakin penasaran dengan dunia Eropa sana, Sial! Kita harus menginjakkan kaki di sana.


Labels:

Tuesday, April 15, 2008

Seuprit Kebijaksanaan dalam Permainan Bola

Jangan pernah meremehkan serangan lawan, meski seberapa remeh pun itu kelihatannya…

Erwin rekan kerja ku menendang bola dari tengah lapangan futsal, pelan. Aku sebagai kiper memperhatikan bola yang menggelinding dengan sangat pelan ke arahku. Sangat pelan, hingga aku tertawa terkikik-kikik. Hihihi

Aku akan menghentikan bola dengan sebelah kaki, berlagak segera menginjaknya dengan gaya paling cool. Kugerakkan kakiku. Sreet! Ternyata: gool!!! Satu lapangan tertawa terbahak-bahak, aku berhenti terkikik kikik.

Perjalanan di negeri yang damai

Hari itu, 15 oktober 2006, beberapa anak muda menjejakkan kaki di negeri aceh. Dibawa oleh Pak Le seorang bos besar tetapi keci. ”Penjualan manusia”. Tujuh anak muda, antara lain: Yows, Roni, Obhe, Fikar, Dany, Ardha dan Zikri, yang berhasil dikecoh dengan iming-iming pekerjaan yang beliau selalu bilang ”kesempatan” yang menjanjikan bagi fresh graduate. Gaji sekian sebulan, uang makan sekian, transportasi, berikut pulsa sekian.

Maka jadilah, meski masih shock karena baru saja tiba di bagian paling ujung indonesia barat, sekian manusia itu langsung disebar ke berbagai daerah lokasi pekerjaan: Pidie, Meulaboh dan Tapak Tuan. Tersebutlah tiga orang yang mendapat kesempatan emas di daerah Pidie, dengan ibukotanya Siglie.

Profil Tim Pidie:

Yows: Tampan, berperilaku santun, berbudi pekerti luhur, berjiwa ksatria, gemar menabung dan cinta keindahan.

Zikri: Hampir tidak tampan, berperilaku hampir ganjil.

Ardha: Tidak tampan, berperilaku ganjil.

Pak Asep: Sangat tidak tampan, dan berperilaku sangat ganjil.

Kota Siglie

Semua makhluk tersebut di basecamp kan (oleh Bos Besar tapi Kecil) di losmen Riza. Losmen yang mendominasi industri penginapan di kota kecil ini. Lokasi sangat strategis dan pelayanan sangat tidak strategis. Siglie adalah kota yang aneh, terlihat terlalu malu untuk dikatakan sebuah kota. Berjalan keliling di pusat kota hanya akan menghabiskan waktu sekitar 15menit.

”Ironis” kata yang sering terucap oleh Pak Asep saat melihat keadaan kota. NAD provinsi kaya. Dan kekayaannya tak tergambar pada keadaan kota yang mereka lihat. Tapi jika hal itu dikaitkan dengan kenyataan bagaimana keadaan NAD saat berada di bawah kekuasaan RI, pernyataan ironis itu telah menemukan jawaban. Pemerintah RI dibawah rezim orde baru telah... telah apa ya? mungkin cukup untuk dikatakan telah berlalu.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan sebuah kota kecil. Hidup di kota kecil seharusnya menyenangkan. Padang rumput yang luas menghampar, sapi-sapi hidup rukun, gunung-gunung hijau berjajar, sungai yang bening mengalir. Tapi, setelah di tinjau lebih jauh lagi, disini tak ada toko buku yang memadai. Itu yang sangat menyedihkan bagi sebuah kota kecil.

Satu hal yang tak lepas dari pengamatan, seperti yang terdapat di kota besar, di daerah ini banyak pengemis, di pinggir jalan, di pom bensin, bahkan yang berdinas dari rumah ke rumah. Salah satu yang paling populer adalah seorang wanita usia produktif yang punya ciri khas kental. Begitu datang ke kamar dia mengucapkan salam, kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang sama rima dan iramanya dari hari ke hari, ”Bisa kakak minta tolong sama adek, Sudah dua hari kk belum makan, tidak punya uang buat beli beras, kalau adek mau membantu insya alloh amalnya diterima.” Kedatangan pertama, mereka memberi ala kadarnya. Tapi begitu besoknya dia datang lagi dengan perkataan yang sama ”Sudah dua hari tidak makan.” bingungnya hendak berbuat apa. Tapi mereka tak bisa menyalahkan diri mereka karena tidak memberi, tidak bisa menyalahkan beliau karena meminta-minta, juga tidak bisa menyalahkan bencana Tsunami yang melanda wilayah ini.

Inspector dan Konsultan Supervisi

Apakah bedanya antara inspector dan inspectur? Pertanyaan itu akan terjawab dalam percakapan berikut ini:

Duri dan Ardha memasuki lapangan (sebuah rumah makan nasi goreng kentucki yang sangat khas dari dari Aceh setelah mie kepiting dan kopi hitamnya). Mereka langsung disambut oleh seorang laki-laki bertubuh besar, ganteng, berkulit hitam dan berhidung mancung layaknya seorang bintang film india.

”Selamat datang, mau pesan apa inspector?” Kata si laki-laki.

”Pesan nasi goreng ayam kentucki inspectur Rajib!”

(Sebenarnya dialog ini hanya memberikan jawaban ambigu)

Ya, itulah bedanya inspector dan inspectur. Dan demikianlah, tiga orang mahasiswa yang hari-hari sebelumnya tak pernah bermimpi akan singgah di negeri daun surga akhirnya mejadi seorang inspector. Mungkin lebih tepat jika dikatakan: menjadi seorang sub-inspector.

Seperti juga kontraktor yang biasa men-subkan pekerjaan, ternyata supervisi juga mengakomodir perilaku yang sama, men-subkan pekerjaan. Hingga nama-nama yang ada di daftar bukanlah nama sebenarnya. Seorang dengan nama Ardha saat dilapangan harus siap memperkenalkan diri sebagai Sukirman, seorang Wahyu dengan nama Mustakin dan seorang Duri dengan nama Sekretaris Asep?

Empat orang tim Sigli di dalam kijang inova merah marun secara rutin berangkat ke proyek sambil bernyanyi-nyanyi lagu Iwan Falls dan Dloyd, sambil cekakan, tak lupa untuk mengklakson inong-inong cantik di pinggir jalan. Begitu rutinnya, sampai Pak Asep bisa membedakan apakah itu anak gadis yang sedang kerja di sawah atau ibu-ibu tua dari bunyi angin yang meniupnya antara Ssssssssst atau Wiir Wiiir... Begitu tiba di proyek, celingak celinguk sebentar, salaman sana sini, sapa sana sini, tunjuk sana sini, sambar air dan rokok jatah trus pulang. Tentu saja ini bukan budaya kerja yang baik, tapi begitulah hari-hari harus berlalu.

Sulit untuk dikatakan apakah masa-masa di Aceh ini merupakan masa bahagia atau masa yang lain. Tapi mereka selalu mewanai hari-hari disana dengan ceria, saat matahari sudah agak tinggi berangkat ke proyek, pulang sebelum matahari turun. Untuk tetap di proyek seharian tidak mungkin karena ada beberapa lokasi yang berjauhan, apalagi dengan kondisi pengawasan tidak lebih sebagai formalitas.

Begitu saja hari-hari berlalu, Tim Siglie sukses menjadi Tim yang jarang kena marah oboz besar, padahal oboz adalah seorang yang terkenal berdarah tinggi. Tentu saja ini terjadi berkat Yows yang berbudi pekerti luhur, Zikri yang berbudi pekerti agak ganjil, Ardha yang ganjil, serta Pak Asep yang sangat Ganjil.

Beberapa bulan berlalu, hingga bulan ramadhan tiba, hingga liburan hari raya tiba. Akhirnya mereka pulang dengan selamat ke kampung halaman masing-masing.

Labels:

Tuesday, April 01, 2008

Pledoi Hati Laki-laki

Anak muda itu duduk seorang diri dalam cahaya remang hati yang meradang. Dia ingin bingar tapi tak ada suara terdengar. Dia tak mengerti, hanya merasa hatinya disakiti. Dengan senyum sinis yang membuat wajahnya meringis, dia lalu mencoba menulis. Dia rasa hanya itu yang dia bisa untuk memberikan terang pada remang sementara untuk berkata-kata dia kan terbata-bata.

"Pledoi hati laki-laki" Dia memulainya.

"Ada hati yang tak mudah mengerti, tapi itu bukanlah keinginannya. Ada hati yang tak ingin disakiti, tapi siapa yang menginginkan menyakiti. Apalagi kepada hati kita sendiri. Jika hati itu telah terbagi, bukankah lebih mudah dia disakiti?"

Si anak muda memejamkan matanya beberapa saat, mengangkat sebelah tangan ke dahi, menyangga kepalanya yang terasa berat.

"Biar, biarkan saja isi kepala jatuh, karena kini hati lebih ingin dihormati." Lanjut si pemuda, sembari menyalakan rokok untuk meringankan bebannya.

"Baik, baiklah, kita menghendaki kebaikan, menginginkan kebenaran. Hentikan bicara tentang sakit menyakiti. Benar, mari biarkan yang benar terlihat benar. Adakah yang tau bagaimana melihat yang benar? Apakah itu dengan perasaan? Apakah itu dengan pikiran? Apabila itu dengan perasaan, bagaimana bisa ada orang berbuat salah tapi merasa dirinya benar? Apabila itu dengan pikiran, betapa banyaknya manusia yang tak bisa berpikir, karena nabi-nabi harus turun menyampaikan kebenaran. Mungkinkah itu dengan hati, tapi bagaimana membedakannya dengan yang lain. Jelas, kita tak tau apa yang benar. Jelas kita masih mencari cara mencari benar. Jelas, terdakwa di persidangan berhak mengajukan pledoi. Karena hakim atau jaksa, atau siapapun belum tentu benar."

Si anak muda menghisap nafas dalam-dalam berbaur nikotin yang membuatnya berat, lalu menghembuskan kuat-kuat agar dadanya terasa lebih kosong. Jiwa dan raganya yang lelah semakin tak bertenaga. Bahkan dia tak tau apakah yang dia lakukan itu benar.

"Sudah, sudahlah, tak perlu kita bicarakan apa yang tak kita tau. Aku akan bercerita apa yang aku tau, meski cerita itu tidak untuk siapapun, walaupun aku tak mendengar apa yang kau tau. Mungkin aku tak boleh memakai kata kita lagi untuk kau dan aku, karena aku tak tau kau"

"Aku tau cinta, aku tau, hanya tau. Tak peduli apakah itu dari pikiran, perasaan atau dari pengindraan. Aku tau ada cinta. Aku tau aku cinta kau. Aku pun tau kau punya cinta, aku pernah menduga bahwa sebagiannya untukku. Tolong beri tau aku jika itu salah. Tapi beri tau aku jika cara mencinta ku tidak kau inginkan. Tapi beri tau jika aku tak kau inginkan! Apakah kau pernah melihat petir di siang bolong, akan ku katakan bahwa aku pernah merasakannya saat malam sunyi dan tak ada awan yang memberi pertanda. Haruskah hukum alam tak berlaku lagi, karena bukankah kejadian alam selalu diiringi pertanda?"

Si anak muda ingin berteriak, tapi tanpa bersuara pun mulutnya terasa kering, kering dalam hening yang membalut perih.

"Dalam diam mu aku terus mencari, haruskah aku pergi atau akan terulang begini. Waktu yang kejam ternyata hanya berputar-putar, kisah yang sama kembali lagi disini. Tentu saja lelah adalah buangannya. Tapi apa artinya usaha jika lelah tak ku hargai. Dalam lelah aku harusnya bertahan, bukan berhenti."

"Bukankah telah kukatakan mimpi yang mengukir masa depan. Bukankah telah kulukis kau pada setiap arah pandang ku, bahkan pada setiap bayangan yang mengikutiku. Bukankah telah kutanam mawar pada jejak yang kutinggalkan. Tentu harus ada duri padanya, atau kita tak akan mencium wanginya. Malangnya aku. Bahkan kata kita yang tak ingin kusebutkan tak mampu kuhindari."

Si anak muda termenung. Diresapinya udara dingin ke dalam tulang. Ditariknya nafas satu dua. Dikerjapkannya cahaya yang remang. Didengarnya detak jantungnya sendiri. Dirasakannya detak kekasihnya yang pergi entah kemana. Detak yang dia inginkan untuk rengkuh dalam pelukan. Detak yang membuat jam seharusnya berhenti berdetak hingga mereka tak terusik oleh waktu.

Si anak muda memejamkan matanya. Lama. Kenangan demi kenangan mengisi. Semua yang tertinggal dalam ingatan hadir kembali. Dia pernah tertawa, pernah hampir menitikkan air mata. Tangannya menggapai mecoba memeluk setiap penggal kenangan, tak bisa. Dia tau itu, tapi terus mencoba. Dalam pada itu dia melihat senyuman yang sangat akrab. Yang membuatnya ikut tersenyum. Tidak sinis seperti saat dia memulai.

Saat itulah dia mulai bisa bersuara, meski parau terdengarnya.
"Aku mengerti kini, aku dan kau punya kenangan. Itu abadi. Dan aku tau, kau masih akan singgah dalam tidurku meski apapun yang terjadi nanti. Sudahlah. Aku memaafkanmu. Aku membebaskanmu meraih bahagia dengan caramu sendiri. Bahagia mu adalah bahagia ku. Aku merelakanmu."

Si pemuda meraih tulisan tangannya, lalu membuangnya ke udara.

***

Labels: